Menyajikan Berbagai Berita, Peristiwa dan Informasi di Seputar Kota Kabupaten Blora dan Sekitarnya

Sabtu, 09 September 2017

Sosialisasikan Budaya Sadar Bencana, BNPB Wayangan di Blora

Pagelaran wayang kulit sosialisasi Budaya Sadar Bencana dari BNPB di Blok T Blora, Sabtu (9/9/2017) kemarin. (foto: dok-ib)
BLORA. Ribuan warga Blora terhibur pertunjukan wayang kulit pada Sabtu malam (9/9/2017) di Blok T, Blora. Dalang Warseno Slank membawakan tokoh Semar Bangun Kayangan serta pesan kebencanaan kepada warga setempat. Pesan tersebut disampaikan karena masyarakat Blora terpapar potensi bahaya seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Pertunjukan wayang kulit ini sebagai bagian kampanye budaya sadar bencana. Kampanye ini merupakan upaya berkelanjutan. BNPB mengharapkan masyarakat luas untuk memperoleh pengetahuan tentang kebencanaan dan menyadari potensi bahaya di wilayah sekitar. Namun demikian, upaya ini tetap perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak sehingga setiap warga memiliki sikap dan perilaku sadar bencana.

Pada sambutan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo sangat mengapresiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menggelar kesenian tradisional dengan pesan kebencanaan.

Ganjar Pranowo menyapa warga Blora melalui teleconference. (foto: dok-ib)
“Terima kasih kepada BNPB atas dukungan kepada Jawa Tengah bahwa BNPB telah merespon apa yg menjadi keinginan kawan-kawan (BPBD),” ucapnya.

Di sisi lain, Ganjar menyampaikan bahwa Kabupaten Blora telah aktif menginformasikan segala kegiatan di daerah melalui media online dan media sosial kepadanya tanpa dirinya harus berkunjung atau pun bertanya terlebih dulu.

"”Rasa bangga, makin kreatif kita mensosialisaikan kebencanaan kepada masyarakat melalui kesenian tradisional. Selamat semoga pertunjukan wayang kulit ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pada kesempatan teleconference, Ganjar mengajak berdiskusi dengan warga setempat yang menikmati pertunjukan wayang kulit. Ganjar menanyakan lima bencana yang dihadapi masyarakat Blora.

“Banjir, longsor, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Saya akan membantu warga yang kebanjiran ke tempat pengungsian," balas Intan, murid kelas XI SMA N 1 Blora.

Intan yang pernah mendapatkan pelatihan kebencanaan mengkisahkan pengalaman dalam simulasi kebakaran dari petugas Palang Merah Remaja.

“Keluar ruangan untuk menjauhi api dan mencari bantuan,” jawabnya singkat.

Intan dan Yuni berdialog dengan Gubernur Ganjar Pranowo sebelum pementasan wayang kulit. (foto: dok-ib)
Sementara itu, Yuni yang masih duduk kelas 5 sekolah dasar, mengatakan bahwa dirinya belum pernah mengalami bencana. Namun bencana hanya dilihat di layar televisi.

Gubernur sangat mengapresiasi anak-anak muda tadi yang mengetahui mengenai dan peduli terhadap kebencanaan. Pada akhir sambutan Ganjar berpesan kepada Dalang untuk menyampaikan informasi terkait kebencanaan, khususnya terkait kekeringan yang sedang terjadi di wilayah Jawa Tengah.

Sebelum mengawali pertunjukkan Bupati Blora Djoko Nugroho menyerahkan Gunungan kepada Sang Dalang. Dalam rangkaian pembukaan, perwakilan BPBD dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah menerima rekaman serial sandiwara radio Asmara di tengah Bencana (ADB) yang nantinya diputar bagi warga Jawa Tengah. (humas BNPB | res-ib)
Share:

Ratusan Siswa SD Antusias Ikuti Acara BNPB Mengajar

Ratusan siswa SD dari Karangboyo dan Ngelo Kecamatan Cepu mengikuti acara BNPB Mengajar, Sabtu (9/9/2017). (foto: dok-ib)
BLORA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng pada hari Sabtu (9/9/2017) melaksanakan program BNPB Mengajar di Kabupaten Bora dengan menyasar anak-anak yang masih dalam usia sekolah. Bertempat di Balai Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu, BNPB Mengajar diikuti ratusan siswa SD dari Kelurahan Karangboyo dan sekitarnya.

BPBD Kabupaten Blora selaku tuan rumah memilih lokasi di Kecamatan Cepu karena wilayah tersebut merupakan salah satu daerah rawan bencana, khususnya banjir. Sehingga anak-anak perlu dibekali dengan pengetahuan tentang budaya sadar bencana banjir serta penanggulangannya.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Blora Sri Rahayu mengatakan bahwa peserta BNPB Mengajar tidak hanya dari Kelurahan Karangboyo saja, melainkan juga dari Kelurahan Ngelo.

“Kami tempatkan disini (Karangboyo-red) karena wilayah ini rawan terjadi bencana khususnya banjir disaat musim penghujan karena luapan sungai atau kali. Harapannya anak-anak bisa mengerti dan memahami apa saja yang harus dilakukan ketika bencana tersebut terjadi. Ini salah satu bentuk pemberian pengetahuan untuk mencegah sekaligus menanggulangi bencana,” ucapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat (Kapusdatinmas) BNPB Indonesia, Dr. Sutopo Purwo Nugroho M.Si bersama tim dari Jakarta, serta tim BPBD Jateng yang diketuai langsung oleh Pak Sarwa Pramana.

Sutopo yang asli dari Boyolali ini menjelaskan betapa pentingnya budaya sadar bencana bagi kalangan muda yang diberikan melalui program BNPB Mengajar.

Menurutnya, secara umum budaya sadar bencana masyarakat Indonesia masih cukup rendah. Meskipun pasca tsunami Aceh, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penanggulangan bencana meningkat, sudah tahu apa arti tsunami, tanda-tandanya, apa yang harus dilakukan. Begitu juga dengan bencana lainnya. Namun pengetahuan itu belum menjadi sikap dan perilaku sehari-hari.

“Resiko bencana seringkali masih diabaikan dan dianggap kurang penting. Hal yang sama juga terlihat dalam kebijakan pembangunan di daerah yang belum memprioritaskan penanggulangan bencana. Akibatnya kejadian bencana makin meningkat. Korban jiwa dan kerugian ekonomi juga masih cukup besar akibat bencana,” ucapnya.

Sehingga untuk meningkatkan budaya sadar bencana tersebut, salah satunya adalah pendidikan kepada siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Pendidikan kebencanaan sejak dini menurut Sutopo sangat penting agar mereka memahami penanggulangan bencana secara utuh sehingga menjadi bagian dalam proses pendewasaan jiwa anak-anak.

“Untuk itulah, BNPB menyelenggarakan program BNPB Mengajar bekerjasama dengan BPBD. Mengajar siswa tentang kebencanaan. Sudah cukup banyak kegiatan BNPB Mengajar digelar dan antusiasme siswa mengikuti dengan semangat seperti di Cepu Blora ini,” terangnya.

Khusus di Blora kali ini BNPB menghadirkan Pendongeng Kak Ojan dalam program BNPB Mengajar yang berlangsung. Murid-murid kelas 4 hingga 6 dari tiga sekolah dasar mendengarkan dongeng bertema banjir. Mereka pun dengan antusias mengikuti ajakan pendongeng sehingga proses sangat interaktif.

Kak Ojan mengajak para murid untuk peduli terhadap lingkungan dalam membuang sampah di tempat yang khusus telah tersedia di sekitar kita. Kepedulian menjadi nilai yang ingin dikenalkan kepada anak-anak yang memang rawan terpapar bahaya banjir.

Di samping mendongeng, Kak Ojan juga mengajak anak-anak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan terkait dengan banjir. Novi, murid SD Negeri Ngelo, menyampaikan bahwa dirinya menjadi paham untuk mengetahui bencana alam. Murid lain dari SD Negeri Karangboyo 1 merasa senang dan belajar mengenai bencana alam. Sebanyak 242 murid dari SDN Karangboyo 1 dan 3 serta SDN Ngelo 2 yang didampingi guru sangat bergembira mengikuti program BNPB Mengajar.


Koordinator relawan Cepu, Supriyadi mengapresiasi kegiatan ini. “Bertahun-tahun, baru kali ini anak-anak mendapatkan pengetahuan bencana yang seperti ini. Semoga ini bisa meningkatkan pengetahuan anak anak dalam mencegah dan menanggulangi bencana,” ucapnya. (humaskab | res-ib)
Share:

Jumat, 08 September 2017

Warga Dibantu TNI Polri Gotong Royong Bangun Rumah Korban Kebakaran

Sejumlah anggota TNI dan Polri berbaur bersama warga Desa Jomblang, gotong royong membangun rumah korban kebakaran. (foto: dok-ib)
BLORA. Warga Desa Jomblang Kecamatan Jepon dengan dibantu anggota TNI dan Polri kemarin bahu membahu melakukan gotong royong mendirikan rumah baru dari kayu untuk korban kebakaran yang terjadi Senin dini hari (4/9/2017).

Danramil Jepon dan Kapolsek Jepon turut hadir dalam kegiatan tersebut. Keduanya bersama anak buahnya membantu warga masyarajat Desa Jomblang untuk membangun kembali lima rumah milik Warno, Bambang Adi Susilo dan Suwaji yang habis terbakar awal pekan lalu.

Sebagian membantu memasah kayu, ada yang mendirikan tiang penyangga rumah (soko-red), menaikkan genteng dan menata di atas atap. Dengan penuh rasa kerjasama dan rasa saling membantu, pekerjaan yang terbilang berat tersebut dikerjakan secara bersama-sama sehingga terasa lebih ringan.

Keluarga korban juga bersemangat ikut membangun rumahnya. Mereka senang karena dari pihak pemerintah, baik desa, TNI atupun Polisi turut andil memberikan bantuan pembangunan rumahnya.

Proses pendirian rumah secara gotong royong, mencerminkan kerukunan dan
kerjasama lintas anggota baik sipil maupun militer. (foto: dok-ib)
Kapolsek Jepon AKP Joko Priyono menjelaskan sebanyak 25 anggota Polsek Jepon dikerahkan untuk membantu membangun rumah para korban kebakaran bersama-sama warga masyarakat Desa Jomblang.

“Selain menyumbangkan tenaga, kami juga membantu dalam bahan bangunan berupa kayu untuk memperbaiki rumah para korban kebakaran. Dimana dengan segeranya mereka mempunyai rumah sendiri supaya tidak mengungsi,” kata Kapolsek, kemarin.

Kapolsek berharap peristiwa kebakaran yang terjadi di Desa Jomblang merupakan yang terakhir kali khususnya di Kecamatan Jepon dan di Kabupaten Blora pada umumnya. “Mudah-mudahan kejadian kebakaran ini yang terakhir kali di Kecamatan Jepon. Sehingga tidak ada lagi kerugian materil dan bahkan korban jiwa akibat kebakaran,” lanjutnya.

Sementara itu Komandan Koramil 02/Jepon Lettu Inf Puryanto menjelaskan sejak terjadinya kebakaran hingga saat ini, aparat Koramil telah menunjukkan komitmennya membantu warga yang tertimpa bencana.

“Saya berharap dengan kegiatan karya bhakti bersama antara TNI, Polri dan warga masyarakat bisa menumbuhkembangkan kembali hidup gotong royong di lingkungan masyarakat yang mungkin selama ini hampir musnah. Selain itu untuk menjalin hubungan kekeluragaan yang lebih baik dan berkesinambungan sehingga tercipta kemanunggalan TNI dengan Rakyat,” pungkas Danramil Lettu Inf Puryanto.

Kepala Desa Jomblang, Wawan Heri S mengucapkan terimakasih kepada jajaran TNI dan Polri yang telah memberikan bantuan dalam pembangunan korban kebakaran. Ia berharap semua bantuan yang diberikan bisa bermanfaat dan membawa keberkahan kepada kedua belah pihak. (res-infoblora)
Share:

Kemarau, Pilih Jual Air Bersih Ketimbang Antar Penumpang

Tarmijan dan Suprat sedang sibuk mengisi air dalam jerigen untuk dijual ke rumah penduduk. (foto: dok-ib)
BLORA. Kemarau bagi sebagian besar orang membawa bencana karena mengalami kekeringan, nampaknya tidak untuk para tukang becak di sekitaran Kota Blora. Justru di musim kemarau seperti inilah mereka bisa meraup rupiah lebih banyak dengan menjual dan mengantarkan air bersih ketimbang menarik penumpang.

Seperti yang dilakukan Tarmijan dan Suprat, Jumat (8/9/2017) di Sumur Kunting Kelurahan Jetis. Kedua tukang becak ini tampak sibuk mengisi puluhan jerigen air yang akan dijual ke rumah rumah penduduk. Secara bergantian, mereka menggunakan timba sederhana untuk mengisi air yang kemudian ditaruh ke atas becaknya.

Ketika ditemui, Tarmijan mengaku sudah 3 bulan ini ia menjual air bersih menggunakan jerigen ke rumah-rumah penduduk yang sumurnya mulai mengering. Hasilnya lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan menarik penumpang yang semakin lama semakin sepi.

“Sudah sejak bulan Juni lalu saya mulai menjual air bersih. Alhamdulillah hasilnya lebih banyak daripada menarik penumpang. Dalam sehari bisa mengantar air bersih sebanyak 10 sampai 15 kali dengan harga per becak Rp 15 ribu terdiri dari 6 jerigen,” ungkapnya.

Jika dijumlah maka sehari ia bisa mendapatkan uang rata-rata Rp 100 ribu. “Lebih enak jualan air bersih, untungnya lebih banyak. Kalau narik penumpang, sehari belum tentu dapat Rp 50 ribu,” ucapnya singkat.

Hal yang sama juga diungkapkan Suprat, tukang becak ini ikut beralih mengambil dan menjual air ketimbang harus membecak. Ia mengaku saat membecak, hanya beberapa kali mengantarkan orang saja. Pendapatannya lebih banyak berjualan air bersih.

“Kalau jualan air ini ya lumayan lah. Sehari bisa bolak balik terus. Kita hanya jual jasa antar air saja, karena ambil airnya digratiskan oleh pemilik sumur,” terangnya.

Sementara itu Amrullah salah satu warga Blora mengaku saat musim kemarau sering menggunakan jasa tukang becak untuk mengambil air sebab biaya yang digunakan masih murah.

“Kalau musim kemarau seperti ini sering, apalagi kalau kemarau panjang hampir setiap hari pasti beli air dari tukang becak,” ujarnya. (res-infoblora)
Share:

Kamis, 07 September 2017

Besok Malam BNPB Gelar Wayang Kulit Sosialisasi Budaya Sadar Bencana

Ki Warseno Slenk saat pentas di suatu kota. Ia besok malam akan pentas di Blora bersama BNPB dalam sosialisasi budaya sadar bencana. (foto: dok-ib)
BLORA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah akan melaksanakan sosialisasi budaya sadar bencana kepada masyarakat umum yang dikemas dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Blora, Sabtu (9/9/2017) besok.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Blora, Sri Rahayu, kemarin. Ia mengatakan bahwa kali ini Blora dipercaya sebagai tuan rumah pelaksanaan sosialisasi kebencanaan dari BNPB dan BPBD Provinsi.

“Sosialisasi budaya sadar bencana akan diberikan oleh Kapusdatinmas BNPB Bapak Dr Sutopo Purwo Nugroho dalam pentas wayang kulit bersama Ki Warseno Slenk besok Sabtu malam mulai 19.00 WIB di Blok T Blora. Lakon yang dimainkan adalah Semar Mbangun Kahyangan,” ucap Sri Rahayu.

Kalak BPBD Blora, Sri Rahayu mengajak seluruh masyarakat
agar besok malam ikut menyaksikan wayang kulit di Blok T. (foto: dok-ib)
Dimana dalam acara tersebut rencananya akan dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, jajaran pimpinan BPBD Provinsi Jawa Tengah dan seluruh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten/Kota se Jawa Tengah.

Tujuannya, menurut Sri Rahayu adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang kebencanaan. Sehingga masyarakat bisa tahu langkah-langkah tanggap kebencanaan jika suatu hari terjadi bencana alam di sekitarnya. Sekaligus memberikan hiburan pelestarian seni budaya tradisional kepada warga Blora.

Selain itu, menurutnya BNPB juga akan melaksanakan program BNPB Mengajar pada Sabtu paginya bertempat di wilayah yang rawan bencana.

“Untuk program BNPB Mengajar kami arahkan di Kelurahan Ngelo dan Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu yang rawan banjir ketika musim hujan datang. Sasarannya adalah anak-anak SD atau pelajar. Mereka akan diberikan pengetahuan tentang dasar-dasar tanggap bencana,” jelasnya. (humaskab | res-ib)
Share:

2 Atlet Panjat Tebing Blora Raih Medali di Ajang Road to ASIAN GAMES 2018

Agustina Sari (hijab hitam) menunjukkan raihan emasnya bersama Berthdigna (kanannya) yag meraih perunggu. (foto: dok-fpti blora)
BLORA. Dua atlet panjang tebing Kabupaten Blora, Agustina Sari dan Berthdigna Devi, mengukir prestasi di hari pertama Road to ASIAN GAMES 2018 Test Event Sport Climbing di Cikole, Lembang, Bandung (Jabar), pada hari Rabu (6/9/2017).

Bertanding di nomor Speed World Record (SWR), Agustina Sari meraih medali emas. Sedangkan Berthdigna Devi mendapat perunggu. Medali perak di nomor SWR direbut atlet Jateng lainnya, Devi Rahmiati (Banyumas).

Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Blora, H Nur Fatoni, mengemukakan, kejuaraan di Cikole tersebut merupakan event wajib bagi para atlet yang tengah menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) cabang panjat tebing. Selain atlet senior, pemanjat tebing yunior juga tampil di kejuaraan itu.

“Venue event kali ini menempati venue yang pernah digunakan di PON XIX Jabar tahun lalu,’’ ujarnya kemarin.

Bagi Agustina Sari, venue tersebut sudah tidak asing lagi. Pasalnya dia tahun lalu memperkuat kontingen Jateng di PON Jabar. Bahkan atlet yang usai tampil di PON memutuskan mengenakan jilbab tersebut menyumbang medali perak di nomor beregu putri SWR. Bisa jadi karena memiliki kenangan indah itulah, Agustina Sari tampil penuh percaya diri di event kemarin.

“Agustina Sari meraih emas. Sedangkan yuniornya yakni Berthdigna Devi mendapat perunggu,’’ tandas Nur Fatoni yang juga sekretaris KONI Blora.

Road to Asian Games 2018 Test Event Sport Climbing di Cikole masih akan berlangsung hingga 10 September. Menurut Nur Fatoni, Agustina Sari dan Berthdigna Devi masih akan tampil di nomor lainnya, yakni Lead dan Boulder.

Di harapkan di kedua nomor tersebut, kedua atlet panjat tebing Blora itu kembali meraih prestasi. Apalagi Berthdigna Devi mempunyai modal bagus di nomor Boulder. Atlet PPLP Jateng itu di akhir Agustus lalu meraih medali perak nomor Boulder di di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XII di Sawahlunto, Sumatera Barat. ‘’Mudah-mudahan prestasi yang diraih bisa bertambah lagi,’’ pungkas Nur Fatoni. (aiz | res-ib)
Share:

Rabu, 06 September 2017

Harga Cabai Rawit Setan Merosot Saat Panen, Petani di Jepon Mengeluh

Cabai rawit setan segar baru saja dipetik dari lahan sawah Desa Kemiri Kecamatan Jepon, kemarin. (foto: dok-ib)
BLORA. Cabai Rawit Setan yang dulu terkenal mahal dan memiliki tingkat kepedasan tinggi ternyata saat ini harganya justru rendah. Banyak petani cabai rawit setan di Kecamatan Jepon, khususnya Desa Kemiri mengeluh merosotnya harga ketika musim panen tiba seperti yang terjadi saat ini.

Wasito, salah satu petani yang ditemui sedang memanen cabai merah setan di lahan sawah dekat Embung Desa Kemiri, Rabu (6/9/2017) kemarin, mengaku saat panen kali ini harga di pasaran hanya Rp 10 ribu per kilogram. Padahal harganya pernah sampai Rp 50 ribu per kilogram.

“Susah ini mas, di pasaran cabainya hanya laku Rp 10 ribu per kilogram. Gak cucuk sama ongkos penanaman dan perawatannya,” ujar Wasito.

Sutapsin sedang memetik cabai rawit setan di lahan yang digarapnya. (foto: dok-ib)
Hal senada juga disampaikan Ahmad Siman yang sedang memanen cabai rawit setan di tengah kebunnya. Menurutnya saat ini merupakan panen ketiga setelah ditanam pada bulan Mei lalu. Hasilnya meningkat daripada panen pertama dan kedua, namun harganya justru anjlok di pasaran.

“Ini sudah petik petiga, tapi harganya tak bagus. Di pasar lakunya sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogramnya. Petani susah kalau begini mas,” ujarnya singkat.

Suwarjo sedang menunjukkan cabai hasil panennya.
(foto: dok-ib)
Untuk diketahui, di sekitar Embung Desa kemiri yang baru saja selesai dibangun itu setidaknya ada lahan sawah sekitar 2 hektar yang ditanami cabai rawit setan. Cabai rawitnya berukuran lebih besar daripada cabai rawit lokal. Yang dipanen pun hanya cabai yang sudah berwarna merah, bukan cabai rawit kuning atau hijau.

Begitu juga dengan Muhammad Asnawi, pria paruh baya yang sedang memanen cabai rawit setan di lahan garapannya itu berharap harga bisa segera naik. Pasalnya cabai yang ditanamnya sejak akhir Mei lalu kini mulai memasuki musim panen, dan bisa dipanen hingga 10 kali petik.

“Sebenarnya cabai ini ditujukan untuk pengiriman ke Pabrik Indofood, namun karena pabriknya belum membuka pengiriman cabai jadi terpaksa kita jual ke pasaran dulu. Harga pabrik Rp 13 ribu per kilogram, kalau di pasaran ini Rp 10 ribu per kilogram. Masih rendah untuk petani,” ungkap Asnawi.

Petani lainnya, Sutapsin dan Suwarjo mengatakan bahwa cabai rawit setan ini memang lebih cocok untuk konsumsi pabrikan. Karena ukurannya yang relatif lebih besar dan rasanya lebih pedas, jarang diminati untuk konsumsi rumah tangga. Mereka berharap cabai rawit setan bisa segera dikirim ke pabrik dengan harga yang bagus.

Dalam satu kali panen atau petik, di lahan seluas sekitar 2 hektar tersebut rata-rata menghasilkan cabai rawit setan sebanyak 5 kwintal. (res-infoblora)  
Share:

Ini Sikap FKUB Blora Terkait Tragedi Kemanusiaan Rohingya Myanmar

Ngatno (kiri) sebagai perwakilan tokoh umat Budha anggota FKUB menyampaikan pandangannya tentang tragedi kemanusiaan Rohingya di hadapan jajaran Forkopimda. (foto: dok-ib)
BLORA. Dengan disaksikan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Blora yang terdiri dari Bupati Djoko Nugroho, Kapolres AKBP Saptono SIK MH, Kepala Kejari Yulitaria SH, MH, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Blora, Makmurin Kusumastuti, S.H.,M.H, Kepala Kemenag Drs. H. Nuril Anwar SH, MH dan lainnya. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Blora menyatakan sikapnya terkait tragedi Rohingya, Rabu (6/9/2017) di Aula Kantor Kemenag Blora.

Pernyataan sikap itu disampaikan oleh Ketua FKUB Blora, H Ishad Shofawi bersama seluruh anggotanya dari tokoh lintas agama se Kabupaten Blora. Adapun beberapa point penting sikap FKUB terhadap tragedi Rohingya adalah sebagai berikut :
  1. Bahwa FKUB menolak kekerasan umat beragama dalam bentuk apapun
  2. Menjalin kerukunan antar umat beragama di masyarakat Kabupaten Blora
  3. Mengimbau kepada warga masyarakat Kabupaten Blora untuk tidak terprovokasi berita di media sosial yang belum tentu kebenarannya
  4. Mendoakan masyarakat Rohingya agar masalahnya bisa segera selesai dan dapat hidup dengan damai
  5. Untuk masyarakat Blora untuk tidak ikut dalam aksi solidaritas di Candi Borobudur dan diharapkan berdoa di tempat ibadah masing-masing
“Sikap ini kami rumuskan atas kesepakatan bersama dan telah ditanda tangani di depan Bupati, Kapolres dan jajaran Forkopimda lainnya. Kami berharap masalah yang terjadi terhadap saudara kita kaum Rohingya bisa segera diselesaikan dengan damai,” terang Ishad Shofawi.

Perwakilan tokoh agama Budha, Ngatno, yang hadir dalam acara tersebut juga menyatakan bahwa dirinya sebagai wakil umat Budha Kabupaten Blora ikut mengecam terjadinya tragedi krisis kemanusiaan pada kaum Rohingya di Myanmar.

“Ini krisis kemanusiaan. Dalam ajaran agama Budha yang kami peluk, sang Budha selalu mengajarkan cinta damai terhadap sesama. Tidak ada ajaran yang mengajarkan kekerasan. Kami berharap pemerintah Myanmar bisa menyelesaikan masalah dengan damai dan menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan. Jangan disangkut pautkan dengan isu agama,” ujarnya.

Ketua FKUB Blora H Ishad Shofawi menyerahkan surat kesepakatan bersama
yang berisi pernyataan sikap terhadap tragedi Rohingya kepada Bupati (foto: dok-ib)
Senada dengan Ngatno, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blora, Ngastoyo S.PdI juga menyatakan hal yang sama. Ia sepakat bahwa yang terjadi di Myanmar adalah sebuah krisis kemanusiaan dan kaum Rohingya membutuhkan uluran bantuan segera.

“Daripada ikut demo, saya pikir lebih baik mengidentifikasi apa yang saat ini diperlukan kaum Rohingya disana sehingga kita bisa memetakan bantuan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Kalau mereka butuh obat-obatan, kita kirim bantuan obat. Kalau butuh sembako, kita kirim bahan pangan. Sehingga bisa dirasakan betul manfaatnya,” ucap Ngastoyo.

Ia mengaku saat ini Muhammadiyah sedang melaksanakan persiapan penyaluran bantuan ke Rohingya dan mengajak ormas lainnya untuk bersama-sama melakukan hal yang sama.

Adapun Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora, H Aunur Rofiq Msi memastikan bahwa seluruh banom dan organisasi yang ada dibawah NU tidak ada yang akan berangkat ke Magelang untuk mengikuti aksi demo.

“Ansor, Banser, IPPNU, IPNU dan lainnya tidak ada yang akan berangkat ke Magelang. Kita anjurkan untuk melaksanakan penggalangan bantuan dan doa bersama,” kata Aunur Rofiq.

Mendengar beberapa pernyataan sikap tersebut, Bupati Djoko Nugroho langsung memberikan apresiasi kepada FKUB. Ia mempersilahkan masing-masing ormas atau agama untuk melakukan penggalangan bantuan untuk disalurkan ke Rohingya, dan dikoordinir bersama-sama.

Hadir dalam kegiatan itu perwakilan berbagai Ormas Islam di Blora, perwakilan Agama Kristen, Agama Katholik, Agama Budha, Agama Hindu dan Konghucu. Usai dibacakan, pernyataan sikap FKUB tersebut lantas ditandatangani bersama dan diserahkan kepada Bupati. (humaskab | res-ib)
Share:

Bupati : Warga Blora Jangan Ikut Aksi Rohingya di Candi Borobudur Magelang

Bupati Djoko Nugroho (kiri) menyampaikan ajakannya agar warga masyarakat Blora tidak ikut aksi di Magelang dalam rapat koordinasi Forkopimda bersama FKUB. (foto: dok-ib)
BLORA. Menanggapi adanya rencana aksi demonstrasi atau orasi solidaritas muslim Rohingya di Candi Borobudur Magelang oleh beberapa ormas Islam tertentu pada Jumat (8/9/2017) mendatang, Bupati Djoko Nugroho pun memberikan arahan untuk warga Blora.

Arahan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) di Kantor Kemenag Kab.Blora, Rabu (6/9/2017) kemarin. Dimana ia melarang warganya untuk mengikuti aksi di Magelang tersebut.

Alasannya, menurut Bupati Djoko Nugroho tragedi yang terjadi pada kaum Rohingya di Negara Bagian Rakhine Myanmar merupakan tragedi krisis kemanusiaan, sehingga jangan dikait-kaitkan dengan isu agama, apalagi sampai menggelar aksi.

“Kita sepakat, bahwa apa yang terjadi pada saudara saudara Rohingya di Myanmar adalah krisis kemanusiaan. Tidak ada sangkut pautnya dengan konflik agama Budha dan Islam, sehingga saya minta seluruh warga Blora jangan mudah terprovokasi untuk mengikuti aksi aksi yang menyudutkan agama tertentu,” tegasnya.

Sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB mengikuti rapat koordinasi dengan Forkopimda. (foto: dok-ib)
Ia menyatakan keprihatinannya atas tragedi yang terjadi dan mengajak seluruh umat beragama di Kabupaten Blora untuk bersama-sama memberikan bantuan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan kaum Rohingya. Salah satunya dengan mendirikan posko bantuan dan menggelar acara doa bersama, bukan aksi demo.

Hal yang sama juga disampaikan Kapolres Blora AKBP Saptono SIK, MH. Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi pada kaum Rohingya merupakan krisis kemanusiaan akibat adanya masalah intern di negara tersebut, bukan masalah agama. Seluruh umat beragama di Blora diminta tidak terprovokasi untuk mengikuti aksi di Magelang yang rawan ditumpangi oleh kepentingan tertentu sehingga berpotensi digiring ke isu SARA.

“Demo di Candi Borobudur tidak diijinkan, karena ini merupakan situs cagar budaya dan dilarang oleh undang-undang. Tragedi krisis kemanusiaan di Myanmar tidak ada hubungannya dengan Candi Borobudur. Jadi kalau niatnya ingin membantu saudara kita Rohingya, lebih baik kita doakan di tempat ibadah masing-masing atau mengirimkan donasi bantuan kesana,” terangnya. (humaskab | res-ib)
Share:

Selasa, 05 September 2017

Blora Jadi Tuan Rumah Liga Santri Nusantara 15-17 September

Jadwal dan bagan pertandingan Liga Santri Nusantara 2017 di Blora. (foto: dok-ib)
BLORA. Kabupaten Blora bersiapn menjadi tuan rumah Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 Regional Jawa Tengah Subregion 1 B. Ketua Panpel LSN Subregion 1B Blora, Maryanto memastikan bahwa LSN 2017 tersebut akan digelar 15-17 September dengan mengambil tempat di Stadion Kridosono Blora.

Ia mengatakan bahwa kepastian itu diperoleh setelah panitia lokal Blora mendapatkan persetujuan dari panitia LSN Jateng terkait waktu penyelenggaraan event sepak bola yang dikhususkan bagi kalangan santri tersebut. ‘’Sudah fix 15-17 September, Jumat hingga Minggu,’’ ujar Maryanto, kemarin.

Untuk diketahui, sebelumnya, LSN 1B Blora dijadwalkan akan digelar 2-3 September. Namun karena subregion Jepara bergabung ke Blora, maka dilakukan perubahan jadwal. Apalagi jumlah peserta bertambah banyak seiring dengan penggabungan tersebut. Hingga akhirnya panpel LSN Jateng bersama panpel lokal Blora menyepakati perubahan jadwal menjadi 15-17 September.

Maryanto mengemukakan, LSN di Blora diikuti sebanyak 13 kesebelasan. Ke-13 tim tersebut berasal dari Jepara, Kudus, Demak, Pati, Rembang, Blora dan Grobogan. Mereka adalah kesebelasan NH United Blora, Khozin FC Blora, An Nur FC Blora, Al Hikmah FC Blora, Al Alif FC Blora, Sirbin FC Grobogan, Amtsilati FC Jepara, RMB FC Jepara, Dafa FC Pati, Mathole’ FC Pati, Rifking FC Demak, Yanbu’ FC Kudus dan Robin FC Rembang.

Dengan durasi liga selama tiga hari yakni Jumat (15/9) hingga Minggu (17/9) itu maka total pertandingan yang akan digelar sebanyak 12 laga.

“Pertandingan menggunakan sistem gugur. Kesebelasan yang memenangkan pertandingan akan melaju ke pertandingan berikutnya hingga ke babak final,” kata Maryanto.

Dia menyebutkan, khusus LSN Blora ini memperebutkan Piala Gus Yaqut. LSN 2017 diperuntukkan bagi pemain maksimal berusia 17 tahun.

“Dengan padatnya jadwal pertandingan, tentu akan menjadi tantangan bagi masing-masing kesebelasan untuk mengadu strategi agar pemain tidak kelelahan,’’ kata Maryanto yang juga mantan sekretaris Askab PSSI Blora. (am/res-ib)
Share:
SUARA BLORA MENYAJIKAN INFORMASI BERITA PERISTIWA SEPUTAR WILAYAH KOTA BLORA DAN SEKITARNYA

Sponsor